Masa krisis keuangan 2009 merupakan tantangan yang paling sulit sekaligus masa menggeliatnya usaha kecil dalam roda pergerakan ekonomi Indonesia. Geliat usaha yang ditunjukan dengan besaran nasabah lembaga keuangan mikro. Geliat ditingkat makro terlihat pada optimisme Sri Mulyani (PR, 18/05/09) bahwa Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 4-4,5% dan menjadi salah satu negara yang pertumbuhan ekonominya positif di tengah krisis ekonomi global yang terjadi.

Lembaga Keuangan Mikro atau lebih dikenal dengan istilah LKM masih menjadi pilihan masyarakat miskin baik pedagang kecil maupun petani untuk terus bertahan dan melangsungkan hidupnya. Kecepatan dan kemudahan mendapatkan uang tanpa agunan menjadi alasan mereka untuk memilih LKM daripada perbankan. Walaupun banyak juga LKM yang berbentuk bank seperti BPR, LKM berbentuk koperasi contohnya KUD, LKM milik pemerintah daerah dalam bentuk Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP), LKM proyek pemerintah antara lain kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS), proyek peningkatan pendapatan petani nelayan kecil, tempat pelayanan simpan pinjam. Kemudian LKM  bagi pemberdayaan perempuan maupun LKM lain berupa pegadaian, arisan dan sebagainya telah menjadi sumber pilihan pinjaman disaat krisis keuangan. LKM jenis terakhir banyak dimanfaatkan oleh pedagang kecil untuk tambahan modal usahanya. Menurut beberapa penelitian, usaha dengan modal kecil atau lebih dikenal dengan usaha informal (micro) menyediakan sebagian besar lapangan pekerjaan di sektor industri (40-90%). Di sisi lain, kompetitifnya usaha diantara para pedagang kecil seperti pedagang jalanan memberikan pendapatan yang tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik. Walau resiko keselamatan, keamanan dan kontrak kerja tinggi tidak membuat mereka melalaikan tanggung jawab pada pekerjaannya.

Penyediaan lapangan kerja sektor informal ini seiring pertumbuhannya dengan upaya pembangunan yang lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi, kemiskinan dan ketimpangan sosial sejak tahun 60-an. Upaya pembangunan seperti pertama, prioritas pembangunan pada komoditas potensial ekspor. Kedua, pembangunan sentra bisnis. Ketiga, pembangunan industri kecil pedesaan terutama hasil agro-kehutanan dan laut. Keempat, pembangunan industri kecil dan koperasi kerajinan tangan serta Kelima, penerapan teknologi tepat guna bagi industri kecil. Upaya yang terbukti belum secara signifikan menurunkan tingkat kemiskinan masyarakat.

Pinjaman Modal

Praktik dagang perlu keterampilan, meski modal kecil. Perkakas pedagang jalanan menetap maupun keliling umumnya menggunakan sepeda, gerobak dorong maupun lapak beroda dan jenis tempat dagangan lainnya. Barang diambil dari pedagang lain atau langsung ke pengrajin pada pagi hari dan membayarnya pada saat mengambil barang dagangan lagi. Keuntungannya kecil, bahkan seringkali tidak ada. Perdagangan seperti ini mempunyai ciri pertukaran meski terdapat uang muka tunai, keseluruhan praktik dagang kecil-kecilan ini lebih mirip barter. Pedagang yang mempunyai keuntungan lebih menghabiskannya untuk kebutuhan rumah tangga. Sama sekali tidak ada uang yang bisa ditabung.

Usaha mikro yang dilakukan para pedagang jalanan ini tidak mampu untuk menumpuk modal. Pendapatan usahanya kadang habis hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sedangkan di tingkatan rumah tangga, akumulasi modal dalam bentuk perbaikan rumah, biaya pendidikan anak dan pembelian barang produksi bisa disiasati dengan penganekaragaman sumber pendapatan rumah tangga seperti buruh cuci. Di Bandung misalnya di sekitar lingkungan kampus, buruh cuci dikenal dengan istilah teh, mbak atau ibu cuci. Sumber-sumber pendapatan yang kadang tidak memperhatikan batas kemampuan dan kesehatan fisik. Hal ini banyak terjadi pada masyarakat miskin di perkotaan.

Pertumbuhan proporsi usaha informal yang dicirikan dengan meningkatnya jumlah pedagang jalanan menandakan peminggiran masyarakat miskin dalam ekonomi perkotaan yang disebut Bijlmer (1985) sebagai involusi ekonomi informal. Pedagang yang berada jalanan di golongan menjadi dua yaitu penjual menetap (pedagang kaki lima) - baik menetap di satu tempat tetap maupun menetap di suatu tempat tertentu- dan pedagang keliling, yang berkeliling di sekitar tempat tertentu. Tempat umum dan strategis untuk berjualan biasanya diperjualbelikan oleh oknum tertentu kepada para pedagang jalanan ini. Hanya yang mempunyai modal saja yang bisa mengakses lapak (tempat berjualan) strategis tersebut. Tempat yang selalu dikuasai oleh sekelompok preman yang menyediakan perlindungan.

Berdasarkan hasil penelitian (Velzen, 1990), konsep peminggiran ekonomi (economic marginalisation) dapat dibedakan menjadi empat dimensi. Pertama, peminggiran dari pekerjaan produktif. Kedua, peminggiran sebagai konsentrasi atau pemadatan di pinggiran pasar kerja. Ketiga, peminggiran sebagai pemisahan. Hasilnya, kegiatan ini mempunyai kedudukan rendah dan miskin kemampuan pengembangan diri. Keempat, peminggiran sebagai ketidaksetaraan ekonomi. Hal ini bisa dinilai lewat upah dan bayaran berbeda serta ketidaksetaraan akses terhadap keuntungan tertentu seperti bonus, pelatihan dan lain-lain.

Para pedagang kecil mempunyai tiga pilihan untuk mendapatkan pinjaman modal agar usahanya dapat berjalan yaitu dari bank milik pemerintah, koperasi/jasa sektoral dan perorangan. Berbagai pertimbangan seperti besar bunga yang harus dibayar, prosedur peminjaman, waktu pencairan modal menjadi alasan bagi mereka untuk lebih memilih jasa sektoral seperti lembaga keungan mikro (koperasi, BMT, BPR dan sebagainya) dan sumber pinjaman dari perorangan (lintah darat/rentenir, arisan maupun kerabat dengan sistem bagi hasil).

Kredit Usaha

Tiga jenis  usaha mikro berdasarkan faktor pendorong keberlangsungannya (Kragten, 2002). Pertama, industri yang muncul sebagai tanggapan atas ketidakmampuan sektor pertanian menampung tenaga kerja yang ada. Rumah tangga yang berkegiatan dalam industri kecil seperti ini umumnya karena langkanya kesempatan kerja alternatif. Kedua, industri yang muncul karena meningkatnya produktivitas dalam pertanian dan meningkatnya integrasi dengan pasar perkotaan. Industri sejenis ini tampilnya lebih baik dan mempunyai kemampuan berkembang ketimbang jenis pertama; terutama industri yang masih berhubungan dengan pertanian. Rumah tangga yang ikut serta dalam kegiatan industri jenis ini biasanya karena secara relatif pendapatan yang akan didapat menarik. Ketiga, industri yang muncul karena meningkatnya kesempatan produsen non-pertanian memenuhi kebutuhan lapisan miskin pasar perkotaan. Jenis kegiatan ini yang paling mempunyai kemampuan bertahan hidup dalam jangka panjang.

Harus diakui bahwa dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan, perjuangan hidup sehari-hari tidak terlalu mengkhawatirkan pedagang jalanan. Memang mereka tidak lebih miskin dari sebagian jenis pekerjaan yang lainnya seperti buruh pabrik, pembantu rumah tangga dan sebagainya. Mereka mengalami kesulitan yang sama dan mengatasinya dengan cara yang relatif hampir sama pula. Keadaan yang serba tidak pastilah yang mengkhawatirkan mereka. Keadaan yang juga melanggengkan mereka pada ketergantungan lembaga keuangan mikro.–—

Oleh Wanda Listiani

Mahasiswa Program Doktor UGM dan Konsultan Mikrobisnis.com

Belajar online di sekolah Online Visikata

Penting.Hosting Untuk Bisnis Anda Yang: Stabil, Aman dan Cepat